Senin, 03 Agustus 2015

TERKADANG, YANG DIANGGAP SEPELE PUNYA PERAN YANG SANGAT PENTING


Assalamu’alaikum.
Halo semua! Kali ini aku mau sedikit membuka pikiran kalian kalian yang masih sedikit ‘tertutup’

Jadi, setelah aku memutuskan memilih program studi PG-PAUD tidak sedikit yang mengaggap remeh dan sepele. Kalau pergi ketemu orang pasti ditanya “ Teh, sekarang dimana?” ketika aku menjawab jurusan PG-PAUD responnya pun bermacam macam mulai dari yang positif sampai negatif.
“Oh iya? Alhamdulillah yaa teh selamat”
“Syukur atuh, semoga nanti bisa bikin PAUD sendiri yaa”
“Alhamdulillah ya ibu guru J
Kurang lebih seperti itulah yaa respon positifnya. Tapi ada juga respon yang bikin aku Istighfar terus.
 “Mau jadi guru teh? Serius?”
“Yaampun teteh, ngapain jadi guru? Guru anak kecil lagi”
“Oh. PG-PAUD”

Semuanya aku senyumin aja. Malah ada yang bilang “Teh nanti jadinya guru ya? Yaampun teh kacape cape kamu ngurusin anak kecil, gajinya kecil capenya iya, kurang di dukung sama pemerintah, gaadaan uangnya teh”

Dalam hati aku bilang “EMANGNYA SITU SIAPA BISA CEM RAMAL REZEKI SAYA?”.”DULU EMANG ANDA BELAJAR DI SEKOLAH SAMA SIAPA?!?” Duh, sakit hatinya Ya Allah L Mama bilang waktu itu, biarin aja orang kayak gitu mah gak usah di denger anggep aja angin lalu. Dalem hati aku bilang masih banyak juga ya yang menganggap remeh dan sepele profesi seorang guru. Padahal guru itu kan penting banget apagi buat anak kecil yang lagi masa golden age :’) #preparepindahkeFinlandia xD
Oke lupain ajalah ya orang – orang yang seperti itu.

Anyway aku milih PG-PAUD karena suka dengan dunia anak. Aku kan anak bungsu, perbedaan usia sama kakak 6 tahun. Di rumah serasa anak tunggal jadinya sepi. Aku sering main sama sepupu perempuanku yang masih kecil kecil. Umur 2-7 tahun-na lah. Kalau ketemu suka main bareng, mandiin mereka, nyuapin mereka pas makan, ah banyak hal deh pokoknya. Seru juga bareng anak kecil J Malah pernah sewaktu aku lagi pup, salah satu sepupuku sampai nungguin depan pintu toilet “Teh jangan lama – lama ya pup nyaaa, aku tunggu disini” xD

Setelah memutuskan mengambil jurusan PG-PAUD, aku sering membaca blog teman – teman yang satu jurusan juga. Disana, kakak – kakak menceritakan bagaimana pengalaman dan suka duka di jurusan tersebut, menjadi guru PAUD, pengabdian dan lain – lain.

Suatu ketika aku membaca sebuah blog seorang guru PAUD di Lombok Utara, NTB. Banyak sekali pengalaman yang di dapat oleh beliau. Salah satunya yang sangat membuatku kaget dan prihatin membacanya. Jadi ketika itu beliau meminta anak – anak membuat sesuatu menggunakan plastisin seperti sate, bunga, binatang, dan lain – lain. Tetapi ada seorang anak yang membuat sesuatu berbeda dari yang lain, yaitu maaf, dia membuat alat kelamin laki – laki. Beliau dan guru – guru yang lain sangat kaget dan tidak menyangka anak itu membentuk sesuatu yang sangat tidak wajar bagi anak seusianya. Kemudian Ibu guru menyuruhnya membentuk yang lain. Guru – guru makin terperanjat kaget karena kali ini anak itu membuat, maaf, BH ( baju dalam wanita ).  Ketika membaca hal tersebut aku prihatin, heran, dan bertanya – tanya mengapa anak tersebut mempunyai pikiran atau imajinasi yang sangat tidak wajar. Terlepas dari semua itu, bagi anak – anak tersebut mungkin ini menjadi ruang yang asyik dan menarik untuk mengaktualisasikan apa yang sering mereka alami.

Sesudah membaca blog tersebut aku masih sangat bertanya – tanya mengapa anak yang masih sangat dini usianya bisa berpikir dan berimajinasi seperti itu. Mungkin faktor lingkungan, pikirku. Seperti kita ketahui, anak kecil sangat mudah meresap apa – apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka tak mem-filter itu terlebih dahulu.

Disinilah peran guru dibutuhkan. Terkadang, yang dianggap sepele punya peran yang sangat penting. Hal – hal negatif seperti itu ketika dari awal sudah diketahui bisa diatasi. Untung saja ketahuan lebih awal kalau enggak kan bisa tambah terpuruk :( Hal diatas membuatku berpikir, ‘Kita semua punya PR besar’. Cerita tersebut mungkin hanyalah satu dari banyak cerita yang ada. Tentu kita tak ingin melihat generasi bangsa terpuruk seperti itu. Orang tua juga sangat ambil andil dalam tumbuh kembang anak.

Dari cerita tersebut aku juga belajar bahwa, ketika suatu saat aku menjadi seorang tenaga pengajar aku harus peka terhadap anak. Aku juga berusaha mempunyai perilaku yang sopan, bertutur kata baik, jujur, dan hal baik lainnya. Karena anak kecil sangat mudah menyerap apa yang mereka lihat dan dengar. Ketika berhadapan dengan anak kecil, kita tak perlu terlalu sering berucap “Buang sampah pada tempatnya yaa”, “Jangan lupa baca doa dulu sebelum makan”,”Ayok dibereskan lagi mainanya”,”Ayok solat dulu sayang”. Tapi, berilah contoh. Ketika anak kecil melihat apa yang kita lakukan hal itu lebih meresap dibandingkan dengan ucapan – ucapan kita. Jangan, kita berucap seperti itu tapi tak pernah melakukannya.

Semoga hal ini menjadi bahan pemikiran kita bersama.
Oiya, intinya guru sangat berjasa dan punya peran penting :)
See you!