Assalamu’alaikum.
Halo semua! Kali ini aku mau
sedikit membuka pikiran kalian kalian yang masih sedikit ‘tertutup’
Jadi, setelah aku memutuskan
memilih program studi PG-PAUD tidak sedikit yang mengaggap remeh dan sepele.
Kalau pergi ketemu orang pasti ditanya “ Teh, sekarang dimana?” ketika aku
menjawab jurusan PG-PAUD responnya pun bermacam macam mulai dari yang positif
sampai negatif.
“Oh iya? Alhamdulillah yaa teh
selamat”
“Syukur atuh, semoga nanti bisa
bikin PAUD sendiri yaa”
“Alhamdulillah ya ibu guru J”
Kurang lebih seperti itulah yaa
respon positifnya. Tapi ada juga respon yang bikin aku Istighfar terus.
“Mau jadi guru teh? Serius?”
“Yaampun teteh, ngapain jadi
guru? Guru anak kecil lagi”
“Oh. PG-PAUD”
Semuanya aku senyumin aja. Malah
ada yang bilang “Teh nanti jadinya guru ya? Yaampun teh kacape cape kamu ngurusin anak kecil,
gajinya kecil capenya iya, kurang di dukung sama pemerintah, gaadaan uangnya
teh”
Dalam hati aku bilang “EMANGNYA
SITU SIAPA BISA CEM RAMAL REZEKI SAYA?”.”DULU EMANG ANDA BELAJAR DI SEKOLAH
SAMA SIAPA?!?” Duh, sakit hatinya Ya Allah L
Mama bilang waktu itu, biarin aja orang kayak gitu mah gak usah di denger
anggep aja angin lalu. Dalem hati aku bilang masih banyak juga ya yang
menganggap remeh dan sepele profesi seorang guru. Padahal guru itu kan penting banget apagi
buat anak kecil yang lagi masa golden age :’) #preparepindahkeFinlandia xD
Oke lupain ajalah ya orang – orang
yang seperti itu.
Anyway aku milih PG-PAUD karena
suka dengan dunia anak. Aku kan anak bungsu, perbedaan usia sama kakak 6 tahun.
Di rumah serasa anak tunggal jadinya sepi. Aku sering main sama sepupu
perempuanku yang masih kecil kecil. Umur 2-7 tahun-na lah. Kalau ketemu suka
main bareng, mandiin mereka, nyuapin mereka pas makan, ah banyak hal deh
pokoknya. Seru juga bareng anak kecil J
Malah pernah sewaktu aku lagi pup, salah satu sepupuku sampai nungguin depan
pintu toilet “Teh jangan lama – lama ya pup nyaaa, aku tunggu disini” xD
Setelah memutuskan mengambil
jurusan PG-PAUD, aku sering membaca blog teman – teman yang satu jurusan juga.
Disana, kakak – kakak menceritakan bagaimana pengalaman dan suka duka di
jurusan tersebut, menjadi guru PAUD, pengabdian dan lain – lain.
Suatu ketika aku membaca sebuah
blog seorang guru PAUD di Lombok Utara, NTB. Banyak sekali pengalaman yang di
dapat oleh beliau. Salah satunya yang sangat membuatku kaget dan prihatin
membacanya. Jadi ketika itu beliau meminta anak – anak membuat sesuatu
menggunakan plastisin seperti sate, bunga, binatang, dan lain – lain. Tetapi
ada seorang anak yang membuat sesuatu berbeda dari yang lain, yaitu maaf, dia
membuat alat kelamin laki – laki. Beliau dan guru – guru yang lain sangat kaget
dan tidak menyangka anak itu membentuk sesuatu yang sangat tidak wajar bagi
anak seusianya. Kemudian Ibu guru menyuruhnya membentuk yang lain. Guru – guru
makin terperanjat kaget karena kali ini anak itu membuat, maaf, BH ( baju dalam
wanita ). Ketika membaca hal tersebut
aku prihatin, heran, dan bertanya – tanya mengapa anak tersebut mempunyai
pikiran atau imajinasi yang sangat tidak wajar. Terlepas dari semua itu, bagi
anak – anak tersebut mungkin ini menjadi ruang yang asyik dan menarik untuk
mengaktualisasikan apa yang sering mereka alami.
Sesudah membaca blog tersebut aku
masih sangat bertanya – tanya mengapa anak yang masih sangat dini usianya bisa
berpikir dan berimajinasi seperti itu. Mungkin faktor lingkungan, pikirku.
Seperti kita ketahui, anak kecil sangat mudah meresap apa – apa yang mereka
lihat dan dengar. Mereka tak mem-filter itu terlebih dahulu.
Disinilah peran guru dibutuhkan. Terkadang, yang dianggap sepele punya peran
yang sangat penting. Hal – hal negatif seperti itu ketika dari awal sudah
diketahui bisa diatasi. Untung saja ketahuan lebih awal kalau enggak kan bisa tambah terpuruk :( Hal diatas membuatku berpikir, ‘Kita semua punya PR
besar’. Cerita tersebut mungkin hanyalah satu dari banyak cerita yang ada.
Tentu kita tak ingin melihat generasi bangsa terpuruk seperti itu. Orang tua
juga sangat ambil andil dalam tumbuh kembang anak.
Dari cerita tersebut aku juga
belajar bahwa, ketika suatu saat aku menjadi seorang tenaga pengajar aku harus
peka terhadap anak. Aku juga berusaha mempunyai perilaku yang sopan, bertutur
kata baik, jujur, dan hal baik lainnya. Karena anak kecil sangat mudah menyerap
apa yang mereka lihat dan dengar. Ketika berhadapan dengan anak kecil, kita tak
perlu terlalu sering berucap “Buang sampah pada tempatnya yaa”, “Jangan lupa
baca doa dulu sebelum makan”,”Ayok dibereskan lagi mainanya”,”Ayok solat dulu
sayang”. Tapi, berilah contoh. Ketika anak kecil melihat apa yang kita lakukan
hal itu lebih meresap dibandingkan dengan ucapan – ucapan kita. Jangan, kita
berucap seperti itu tapi tak pernah melakukannya.
Semoga hal ini menjadi bahan
pemikiran kita bersama.
Oiya, intinya guru sangat berjasa dan punya peran penting :)
See you!
bu atun says "guru itu yang paling ulia diantara profesi yg lain"
BalasHapusmama ku says "guru itu ilmunya ngalir terus, pahala ke kitapun insyalloh ngalir teruuss"
nenek aku guru, wawa aku ada yg guru, bibiku ada yg guru, mamaku guru, kakak2 ku guru. dan mereka sangat nyaman di sana, bahagia. seneng banget liat perubahan anak muridnya, seneng banget bisa di inget murid walaupun dia dah lulus. bangga ketika liat dia menang lomba, dia berani maju ke depan. kita tau bahwa itu hasil didikan kita, beuh taps bahagia pisan. dipeluk murid, disayang murid. bahagia pisan eta teh. yap! jadilah guru yg bisa memberi teladan yg baik. semangat kunitku sayaaang. aku bangga punya sahabat calon guru, semoga bisa lanjut jadi dosen PGPAUD aamiin doakan aku juga ingin jadi dosen karena udah gak mungkin ku jadi guru :')